Thursday, September 2, 2010 | By: Life Stories

New Novel Project -Lex Oddypus


Dalam grafik, mimpi dan realita adalah dua garis berbeda yang tidak akan pernah sejajar.
Mereka hanya akan bertemu di suatu titik pertemuan untuk sebuah momentum pendek yang sangat singkat.
Dan entah kenapa hari ini waktu berhenti di titik itu.

-Thomas ‘s Diary- 

Aneh.

Itulah kata pertama yang terlintas di pikiran Thomas. Matanya mendelik heran mengamati sebuah bongkahan batu besar yang mendarat di belakang sekolahnya. Jika ia tidak salah ukuran batu itu seperlima luas lapangan sepak bola yang ia sering saksikan ditelevisi akhir-akhir ini.

Meteorit.

Itu penjelasan pendek yang ia terima dari para lelaki berbaju kuning dan mengenakan simbol bahaya radioaktif berwarna hitam. Mereka mengatakan bahwa mereka dari pemerintah.
Thomas percaya. Mereka menunjukkan lisensi dan surat tugas.

Mengherankan.

Meteorit itu tidak menimbulkan daya hancur yang dahsyat, bahkan tidak mengeluarkan radiasi radioaktif ataupun sekedar sinar gamma. Menurut tiga orang pria berbaju putih yang disebut pria berbaju kuning sebagai para ahli –yang Thomas sendiri ragu akan keahliannya. Semacam keajaiban terjadi ketika meteor itu meluncur ke tanah. Meteor itu melambatkan dirinya sendiri, mengurangi efek tubrukan dari skala richter ke sepuluh menjadi tiga koma dua.

Keanehan yang lain adalah, sebuah medan energi yang Thomas perkirakan berbentuk setengah bola menyelimuti meteor itu, mencegah Thomas dan para pria berbaju kuning itu mendekat. Thomas dan para pria berbaju kuning akan terkena efek aliran listrik yang bahkan tidak dapat dihalangi dengan isolator karet.

Kembalilah ke kelas, dan belajarlah seperti biasa.

Kalimat egois itu meluncur begitu saja dari mulut pria berbaju kuning yang paling besar. Thomas menduga bahwa pria yang paling besar itu adalah pimpinan mereka. Thomas kesal, ia masih penasaran, tapi akhirnya ia menurut saja. Miss.Finchard datang memaksa. Ia membubarkan diri bersama anak-anak lain.


****

Sesi pertama adalah pelajaran Bahasa Inggris. Gurunya adalah Miss.Finchard. Thomas tidak menyukainya, menurutnya selain dengan kacamatanya yang tebal dan penampilannya yang mengerikan ; sepatu hak tinggi, kuku merah panjang, eye shadow hitam yang berlebihan, blazer garis-garis ketat, dan rambut hitam yang keriting. Miss.Finchard termasuk guru yang galak, ia selalu memberikan banyak PR, dan tidak suka jika murid-muridnya mengobrol di kelas.

Ia akan melempar penghapus papan tulis kepada siapa saja yang berani mengobrol ketika ia mengajar. Tentu saja Thomas tidak termasuk. Begitu juga dengan Chris dan Allysa.

Thomas,Chris, dan Allysa adalah tiga murid pandai. Mereka mampu menjawab soal tingkat sekolah menengah atas dengan mudah. Nilai-nilai mereka selalu sempurna. Para guru menyukai mereka, Miss.Finchard juga, karena itu ia tidak pernah marah kepada mereka.

Tapi tentu saja itu bukan alasan utama Miss.Finchard tidak pernah marah kepada mereka. Miss.Finchard tidak pernah marah, karena mereka memang jarang sekali mengobrol, atau tidak pernah mengobrol lebih tepatnya.

Jenius yang Anti-Sosial. Begitulah para murid menyebut Thomas,Chris,dan Allysa.
Thomas selalu tergagap malu ketika berbicara. Ia lebih suka menyendiri menggambar puluhan gambar anime dan pemandangan yang ia lihat. Thomas adalah seorang pelukis berbakat. Monet kecil, begitu orang-orang menyebutnya.

Thomas juga berbakat dalam pelajaran matematika dan pengetahuan alam. Ia mampu menyelesaikan seratus soal hitungan dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Leonardo da Vinci kecil, kata orang-orang mengubah sebutannya begitu mengetahui ia adalah siswa yang multi talenta.

Chris mengacuhkan semua orang –hampir semua, kecuali kedua orang tuanya dan beberapa guru favoritnya. Sama seperti Thomas, Chris berbakat dalam bidang Matematika, jika Thomas mampu menyelesaikan soal-soal dalam sepuluh menit. Chris mampu menyelesaikannya dalam sembilan menit empat puluh detik.

Chris pandai bermain musik. Ia mampu memainkan dentingan piano, gesekan biola, tiupan klarinet, petikan harpa, dan hampir berhasil memainkan resonasi menggetar jiwa cello jika saja ia tidak terlalu pendek.
Ia menguasai berbagai jenis musik. Klasik, pop, jazz, bahkan opera. Tapi Chris tidak suka musik rock atau rap. Tidak bermutu dan merendahkan esensi musik kata Chris. Sonata of the Goddess, begitu mereka memanggil Chris.

Allysa selalu memperlihatkan tatapan kosong dan kembali ke pekerjaan sebelumnya jika ia ditegur atau disapa. Sama seperti Thomas dan Chris, Allysa berbakat dalam bidang eksakta, bedanya Allysa tidak terlalu menyukainya.

Ia hanya bisa mengerjakannya, tapi ia tidak atau terpaksa menyukai eksakta lebih tepatnya. Pernah suatu ketika, Mr.Wellington mendapati Allysa tertidur di kelas ketika ulangan fisika baru berlangsung selama lima menit.

Mr.Wellington mendekati meja Allysa untuk memarahinya. Namun ia terkejut mendapati kertas ulangan Allysa sudah penuh terisi semua jawaban. Nilainya sempurna. Seratus. Dan sejak saat itu Allysa tidak pernah dimarahi.

Allysa berbakat dalam bidang sastra, ia menguasai lima bahasa utama. Inggris, Perancis, German, Mandarin, dan Jepang. Ia juga suka menulis cerpen dan novel. Karya-karyanya sudah beberapa kali diterbitkan. The Prodigy, begitu mereka menyebut Allysa.

****

-Thomas-

Kami jarang sekali berbicara, hanya menjawab jika ditanya. Itupun tidak seluruhnya kami jawab. Hanya hal yang penting saja. Seperti pertanyaan yang diajukan para guru ketika kelas sedang berlangsung. Hanya ketika itu kami berbicara.

Namun hari ini sesuatu yang aneh terjadi. Allysa terlihat cemas. Rambut pirangnya sedikit kusut, dan mata aquamarine-nya memancarkan kekhawatiran yang tidak bisa diungkapkan. Sesekali ia menengok kepada Chris, mengucapkan beberapa patah kata. Aku tidak bisa mendengar, mereka ada di pojok kelas yang lain.

Chris juga tidak seperti biasanya, ia menjawab pertanyaan Allysa di kelas Miss.Finchard. Rambut biru dan kacamata tipisnya sedikit berayun ketika ia berbicara dengan Allysa. Raut mukanya jelas : Ia khawatir.

Aku juga bertanya-tanya alasan mereka khawatir, apakah karena meteorit itu? Aku memiliki beberapa hipotesis kemungkinan. Namun aku ragu, lebih baik menunggu saat istirahat.

****

Allysa dan Chris ternyata berada di sana juga, bersama kumpulan siswa lain mereka memerhatikan meteorit itu. Bedanya, jika siswa-siswa lain memandanginya sambil berdecak kagum dan iseng memotretnya dengan kamera telepon genggam mereka, Allysa dan Chris hanya menunjukkan keringat dingin dan raut muka khawatir.

Sesekali mereka berbisik pelan, kadang Allysa yang berbisik, dan kadang Chris yang berbisik. Tapi kemudian mereka mengangguk secara bersamaan. Aneh.

****

Mengerikan.

Allysa membisikkan sesuatu di telingaku ketika kami berpapasan di lorong sekolah. “Mereka datang, selamatkan dirimu Thomas, pergilah, kota ini akan mati.” Kata Allysa misterius. Bulu kudukku menegang, membuat diriku terdiam bisu tak mengerti, sedetik kemudian seakan-akan kesadaranku baru saja direnggut, aku berbalik ingin menanyakan apa maksudnya. Tapi Allysa sudah lenyap.

Setelah istirahat berakhir, dimulailah pelajaran kesenian, hari ini Miss.Charlote akan mengajarkan cara melukis diatas kanvas. Entah kenapa aku tidak tertarik. Bisikkan Allysa benar-benar menggangguku.

Mereka duduk bersebelahan, melukis meteorit yang jatuh di belakang sekolah kami. Lukisan mereka sama persis. Dari segi warna, bentuk, dan teksturnya tanpa perbedaan sama sekali. Miss.Charlote hanya dapat menggelengkan kepala karena takjub. Siswa lain tertawa melihatnya, mereka mengatakan Allysa dan Chris akhirnya berpacaran. Aku tidak terganggu dengan hal itu, tapi rasanya aku sakit, virus khawatir mulai menyerang.

****

Allysa dan Chris tidak masuk hari ini. Aku semakin khawatir, selama lima tahun mereka bersekolah di sini, mereka mencatat rekor sempurna kehadiran di sekolah. Gerard menyeletuk mereka sedang kasmaran dan asyik berbulan madu. Para siswa tertawa, aku tidak.

Cuaca hari ini juga menambah parah kekhawatiranku. Langit tampak mendung dengan gumpalan besar awan gelap yang menyelimutinya. Sesekali kilatan petir yang bersambut dengan bunyi keras yang memecah langit terdengar nyaring. Semua siswa ketakutan, aku termasuk.

PET!

Listrik padam, semua siswa berteriak ketakutan, beberapa menangis, beberapa iseng menakut-nakuti yang lain. Mr.Howard menyalakan senter yang ia simpan di laci mejanya. Cahaya kembali, para siswa mulai tenang.

Tiba-tiba seberkas sinar terang tampak dari luar. Kami takjub melihat seberkas kilat tiba-tiba menyambar meteorit itu. Menurut teori fisika, seharusnya kilat menyambar tempat yang paling tinggi posisinya, tapi tidak ada yang memikirkan hal itu. Semuanya tertegun takjub, termasuk aku.

Para pria berbaju kuning yang sedang melakukan penelitian terkejut, mereka terjungkal seratus meter jauhnya. Mereka semua tidak sadarkan diri. Aku ketakutan.

****

Aku meringkuk gemetar di sudut ruang kelas. Sebuah meja menutupiku sehingga diriku tidak terlihat. Bau anyir darah tercium di seluruh ruangan. Segerombolan monster mirip serigala keluar dari meteorit tadi. Kejadiannya tidak begitu jelas. Yang kuingat adalah sambaran kilat, cahaya melingkar berwarna pelangi, dan monster-monster yang keluar begitu saja.

Monster-monster itu mirip serigala, kecuali fakta bahwa mereka berbulu merah, bermata biru, berdiri dengan dua kaki, dan memiliki cakar yang sepuluh sentimeter jauh lebih panjang.
 
Mereka menyerang dengan membabi buta, korban pertama adalah para lelaki berbaju kuning itu. Perut mereka dirobek, dan dada mereka disayat. Kemudian monster serigala itu mengeluarkan isi perut yang aku tahu bernama lambung, usus, dan hati. Kemudian mereka menelannya dalam satu kunyahan.

Korban kedua adalah Mr.Smith , petugas keamanan sekolah kami, ia berhasil melepaskan beberapa tembakkan ke arah monster itu. Sebelum ia terkapar bersimbah darah akibat ulah monster itu.
Setelah memakan isi perut Mr.Smith, sesuatu yang aneh mulai terjadi pada salah satu monster itu, dua kaki baru, dua tangan baru, dan kepala baru tiba-tiba muncul di tubuh monster itu. Lima puluh detik kemudian, disaksikan oleh monster yang lain dan para siswa yang shock karena ketakutan, monster itu berhasil membelah dirinya menjadi dua bagian.

Pembelahan biner! Teriakku tidak percaya. Pembelahan biner adalah sebuah proses reproduksi pengandaan diri menjadi dua individu yang sama, dengan membelah nukleus inti sel menjadi dua bagian.

Hal yang selama ini hanya dapat dilakukan oleh bakteri –para makhluk kecil yang hanya dapat diamati melalui mikroskop itu. Kini terpampang jelas di hadapanku dan siswa lain.

Kemudian setelah pembelahan biner itu selesai, mereka menyerang masuk kembali. Aku mendengar beberapa teriakkan kesakitan dari ruangan-ruangan lain. Dentingan piano maut membahana disetiap inci sekolah.

Semua siswa terdiam shock. Mr.Howard tidak. Ia memanfaatkan posisi kelas yang terletak di lantai empat –lantai tertinggi di gedung sekolah. Tanpa ragu, ia berteriak memerintahkan para murid untuk menutup dan menahan pintu dengan tumpukkan lemari dan meja.

Rencana yang cerdas, sayangnya ia melupakan fakta bahwa monster itu dapat memecahkan jendela kaca ruangan. Sehingga ia dan para siswa kelas 5-B bernasib sama –mati. Kecuali aku. Aku menyadari suatu hal yang penting. Hal yang menyelamatkan jiwaku.

Ketika penyerangan terjadi seorang siswi perempuan berteriak. Siswi perempuan itu bernama Leonny. Leonny siswi yang baik, sayangnya ia tidak cerdas dengan berteriak, seketika setelah ia berteriak monster-monster itu beranjak menyerangnya. Ia mati. Siswa lain ketakutan dan mulai berteriak juga, dan mereka juga mati.

Aku tidak. Aku menyumpal mulutku dengan kain seragam untuk mencegah diriku berteriak. Aku bersembunyi di balik salah satu meja, menahan nafas dan gerakanku.

Kemudian mereka beranjak keluar, aku masih terdiam ketakutan.

****

Dua jam berlalu dengan cepat. Setengah dua siang adalah waktu yang ditunjukkan jam tanganku. Langit masih gelap, dan samar-samar kilauan cahaya yang memunculkan monster itu bersinar kembali. Dengan sedikit ragu, aku mendongakkan kepalaku, melihat beberapa puluh monster itu keluar dari batu meteorit itu melalui kilauan cahaya yang sepertinya bertindak sebagai sebuah portal.

Aku terduduk lemas, aku terlalu shock untuk menangis. Mungkin ini yang Chris dan Allysa khawatirkan, tapi bagaimana mereka bisa tahu?

Tiba-tiba aku teringat kepada ponsel di dalam tasku, kemudian tanpa suara aku mengambilnya. Dengan perlahan aku membuka sedikit resleting tasku, menghindari kemungkinan terciptanya suara sekecil apapun yang mungkin akan mengundang kehadiran para monster itu.

Ponselku bersinar biru kecil dalam kegelapan, terlalu terang, dan terlalu berisik. Aku meredupkan cahaya ponselku, dan memasukkanya ke dalam mode sunyi. Aku tak ingin mengambil resiko.

911

Itu nomor yang langsung kupencet, begitu aku meraih ponsel itu dalam genggamanku. Namun sepertinya Dewi Fortuna meninggalkanku, Tidak ada sinyal sama sekali. Dugaanku, para monster itu telah menghancurkan menara komunikasi terdekat.

****

Tiga jam kemudian rasa lapar mulai menyerang perutku. Dengan terpaksa, aku memutuskan untuk beranjak ke kafetaria sekolah. Aku butuh makanan jika ingin bertahan hidup. Paling tidak untuk tiga hari kedepan.

Dengan mengendap-endap aku keluar dari ruangan kelas. Beberapa kali aku hampir muntah menyaksikan mayat-mayat yang bergelimpangan, kondisi mereka sangat mengenaskan. Tubuh yang bersimbah darah, perut yang sudah keluar isinya, bola mata yang terbelalak dan hampir putus, dan tengkorak yang terlihat dari kepalanya.

Selama ini aku berpendapat bahwa hal-hal seperti ini hanya akan terjadi di komik horor atau novel thriller. Namun kali ini sepertinya realita kenyataan ingin menguak sisi lain dari dirinya. Sisi yang mengerikan.
Perlahan-lahan tapi pasti, aku bergerak menuju kafetaria sekolah. Lantai tiga... lantai dua.... sejauh ini belum ada monster yang terlihat. Aku menghela nafas lega, mungkin mereka sudah pergi dari sekolah ini.

Ternyata aku salah.

Monster serigala mengerikan itu tiba-tiba melompat dari belakangku, ia menghadang diriku yang hampir sampai di kafetaria dua puluh meter lagi. Aku terjebak di lorong kosong tanpa senjata atau perlindungan sama sekali. Hidupku berakhir.
 
Serigala itu bersiap menyerang dengan cakar kanannya yang berkilat memantulkan kilauan cahaya bulan di langit yang mulai cerah. Aku menyerah. Aku yakin aku akan mati.

“Self Defense Act , article 568, paragraph seven : Protection of Innocence.”

Suara itu tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam pendengaranku. Kombinasi insting bertahan hidup dan rasa penasaran memaksaku membuka mata. Betapa terkejutnya diriku mendapati monster serigala itu terlilit oleh sebuah rantai besi berkilat yang memancarkan kilauan panas api biru.

Ia tampak menderita, sebelum akhirnya api biru itu membakarnya dengan sempurna.
Aku tak percaya melihatnya, apa yang barusan terjadi? Bukankah seharusnya aku yang akan mati? Dan kenapa malah monster itu yang mati? Dan dari mana rantai aneh itu? Dan suara apa tadi?

Beberapa saat kemudian aku melihat seorang anak perempuan sudah berdiri di hadapanku yang masih terduduk lemas. Dia Allysa! Ia memegang sebuah buku tebal. Buku itu berpendar putih dalam kegelapan.

“Dasar bodoh, aku sudah bilang selamatkan dirimu.” Katanya memandangku sambil tersenyum sinis.

“Allysa , ada apa ini, bagaimana bisa ada monster, dan Kau, apa maksud dari kemampuan anehmu tadi??” Tanyaku gelagapan.

“Beri tahu aku Allysa! Seluruh penghuni sekolah mati,Allysa! Mati!! Mereka mencabik-cabik dan mengeluarkan isi perut semua orang yang mereka temui! Dan sekarang mereka menuju ke kota!!” Kataku semakin panik menunggu kejelasan.

“Tapi, pertanyaan itu ada harganya Thomas.” Jawabnya, aku dapat melihat seringai kecil terbentuk di sudut bibirnya.

“H-harga? Maksudmu?”

“Usiamu.”

“Apa?” Aku tidak mengerti.

“Untuk kau tahu, dunia ini yang kita sebut bumi sebenarnya tidak terdiri dari satu dimensi saja. Ada berbagai macam dimensi yang mengelilinginya. Manusia menyebutnya dunia paralel.”

“Bumi merupakan gerbang utama dimensi-dimensi paralel lain, jika kau ingin pergi ke dimensi lain, kau harus melewati bumi.”

“Karena posisinya yang strategis banyak orang yang berusaha menguasai bumi. Apakah kau pernah mendengar legenda penyihir, peri, elf, ogre, kurcaci, dan sebagainya?”

“Mereka sebenarnya adalah penghuni dimensi paralel lain. Yang kebetulan dilihat oleh manusia.”

“Untuk menjaga agar bumi tidak dikuasai secara sewenang-wenang oleh penduduk dari dunia paralel, kami membentuk semacam hukum antar dimensi. Inter-dimensional-law.”

“Yang dapat melakukan penerapan hukum adalah mereka yang belajar di dimensi hukum paralel. Mereka bertindak sebagai pengawas. Aku termasuk di dalamnya. Dan kali ini entah kenapa terjadi kekacauan berat seperti ini.”

“Kenalkan aku pengacara sihir, The Magical Lawyer, dan aku telah mengambil , hmmm... katakanlah satu setengah tahun usiamu sebagai bayaran penyelamatan dirimu tadi. Kau klienku sekarang” Katanya mengucapkan kata-kata yang sulit kucerna.

"Dunia paralel? Penguasaan? Magical Lawyer? Omong kosong apa itu Allysa?” Jawabku tidak percaya.
“Jadi keberadaan monster tadi, dan rantai api biru yang mengikatnya belum membuatmu percaya sepenuhnya Thomas? Jika kau mau bukti tambahan, apa kau tidak merasa bajumu bertambah sempit dan dirimu bertambah tinggi?”

Aku menahan nafas, aku merasa sepatuku semakin sempit dan tinggiku bertambah. Baju kekecilan dan tidak muat lagi. Satu setengah tahun usiaku telah berlalu tanpa aku sempat menikmatinya. Ia benar! Tapi aku tetap belum mengerti.

“Sudah percaya sekarang?” Tanyanya.

“....”

“Heheh, manusia memang tidak akan percaya semudah itu, kalian sudah termakan oleh logika versi kalian sendiri.” Katanya tertawa kecil.

“Baiklah, aku akan percaya , paling tidak berusaha untuk percaya.”

“Bagus, kau cepat belajar.”

“Oh ya, kenapa kau memakai Bahasa Inggris?”

“Karena Bahasa Inggris adalah bahasa internasional manusia di bumi, dan kau berharap mereka semua mengerti ketika kau melakukan penagihan, ups maksudku pembelaan bukan?”

“....”

“Oh ya Thomas, di sini tidak aman lagi, dan kau tentu tak mau membayar lebih banyak kan?”

Ia menunjuk kumpulan mata biru menyala yang menatap dari sisi gelap lain lorong sekolah.

1 comments:

Dyah said...

Hai Maxi, ini Aphrodite ^^
Tadi mau ngisi chatbox tapi ga berhasil >.<
Lanjutan Lex Oddypus bakal kubaca besok :)

Oh ya, blogmu kulink ke blogku ya :D

Post a Comment